Kegiatan budidaya tanaman pangan dilakukan sebagai bagian dari praktik lapangan di bidang pertanian. Kegiatan ini bertujuan untuk memahami teknik penanaman dan pemeliharaan tanaman pangan secara langsung serta meningkatkan keterampilan dalam pengelolaan komoditas pertanian.
Tanaman pangan yang dibudidayakan meliputi jagung, kedelai, ubi, dan kacang tanah. Keempat komoditas tersebut memiliki nilai ekonomis dan berperan penting sebagai sumber pangan. Setiap tanaman memiliki karakteristik pertumbuhan yang berbeda sehingga perlakuan budidayanya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Gambar 1. Kegiatan budidaya tanaman pangan
Proses budidaya diawali dengan persiapan lahan, seperti pembersihan gulma dan pengolahan tanah agar lebih gembur dan siap tanam. Penanaman dilakukan dengan memperhatikan jarak tanam yang teratur untuk mendukung pertumbuhan optimal serta memudahkan proses perawatan.
Pemeliharaan tanaman dilakukan secara rutin melalui penyiraman untuk menjaga ketersediaan air, terutama pada fase awal pertumbuhan. Selain itu, tanaman dipupuk menggunakan pupuk NPK guna memenuhi kebutuhan unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) yang berperan dalam pertumbuhan vegetatif dan pembentukan hasil panen.
Untuk mencegah serangan hama dan penyakit, dilakukan penyemprotan pestisida sesuai dosis anjuran. Pengendalian ini bertujuan menjaga kesehatan tanaman dan meminimalkan risiko gagal panen. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, budidaya tanaman pangan dapat berjalan secara efektif dan menghasilkan produksi yang optimal.
Mahasiswa Program Studi Agroteknologi Universitas Gunadarma kelas 4IE01 melaksanakan kegiatan budidaya tanaman kembang kol dan tomat menggunakan metode tumpang sari sebagai bagian dari praktik lapangan dan penerapan dari Mata Kuliah Organic Farming. Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, terhitung sejak November 2025 hingga Januari 2026.
Kegiatan budidaya ini tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan produk hortikultura, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran langsung mengenai teknik budidaya, manajemen pemupukan, serta pemeliharaan tanaman secara berkelanjutan
Konsep Tumpang Sari dalam Budidaya Hortikultura
Metode tumpang sari merupakan teknik penanaman dua atau lebih jenis tanaman dalam satu lahan dan waktu yang bersamaan. Sistem ini memiliki berbagai keunggulan, di antaranya yaitu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, mengoptimalkan penyerapan unsur hara, mengurangi risiko kegagalan panen, menekan pertumbuhan gulma, dan meningkatkan keanekaragaman hayati di lahan budidaya.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa memadukan kembang kol (Brassica oleracea var. botrytis) dan tomat (Solanum lycopersicum). Kombinasi ini dipilih karena memiliki karakter pertumbuhan yang berbeda namun saling melengkapi. Kembang kol tumbuh relatif kompak dengan tajuk sedang, sementara tomat memiliki pertumbuhan vertikal dan membutuhkan ruang rambat, sehingga keduanya dapat ditanam secara bersamaan tanpa kompetisi berlebihan jika diatur dengan jarak tanam yang tepat.
Kegiatan budidaya meliputi :
1. Persiapan Lahan
Mahasiswa melakukan pengolahan tanah untuk memperbaiki struktur tanah agar gembur dan memiliki aerasi yang baik. Tahap ini penting untuk mendukung pertumbuhan akar dan penyerapan unsur hara secara optimal.
2. Penanaman
Bibit kembang kol dan tomat yang telah disemai kemudian dipindahkan ke lahan tanam. Pengaturan jarak tanam diperhatikan agar kedua tanaman dapat tumbuh optimal tanpa saling menghambat.
3. Perlakuan Pemupukan
Selama masa budidaya, mahasiswa memberikan perlakuan berupa: Pupuk Organik Cair (POC) dan Pupuk Guano. Pemupukan dilakukan secara rutin satu kali setiap minggu.
Manfaat Pupuk Organik Cair (POC)
POC berperan dalam menyediakan unsur hara makro dan mikro, meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah, memperbaiki kesuburan dan struktur tanah.
Manfaat Pupuk Guano
Guano dikenal kaya akan nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) yang sangat penting untuk pertumbuhan vegetatif tanaman, pembentukan bunga dan buah, meningkatkan kualitas hasil panen Penggunaan pupuk organik ini juga mendukung prinsip pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.
4. PemeliharaanTanaman
Agar pertumbuhan tanaman optimal, mahasiswa melakukan pemeliharaan secara rutin yang meliputi:
Sanitasi Lahan : Membersihkan gulma dan sisa-sisa tanaman yang berpotensi menjadi sumber hama dan penyakit. Sanitasi penting untuk menjaga kesehatan lingkungan tumbuh tanaman.
Penyiraman : Dilakukan sesuai kebutuhan tanaman untuk menjaga kelembapan tanah tetap stabil, terutama pada fase awal pertumbuhan dan pembentukan bunga serta buah.
Pemangkasan : Pada tanaman tomat, pemangkasan dilakukan untuk mengurangi cabang yang tidak produktif, mengoptimalkan distribusi nutrisi, meningkatkan sirkulasi udara, mengurangi risiko serangan penyakit.
Sementara pada kembang kol, pemeliharaan difokuskan pada menjaga daun pelindung agar bunga (curd) tetap terlindungi dan berkembang dengan baik.
Hasil dan Manfaat Kegiatan selama tiga bulan pelaksanaan, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola sistem budidaya hortikultura berbasis tumpang sari. Kegiatan ini memberikan pemahaman mengenai:
Interaksi antar tanaman dalam satu lahan
Efektivitas pemupukan organik
Manajemen pemeliharaan tanaman
Tantangan budidaya di lapangan
Selain itu, kegiatan ini juga melatih kerja sama tim, ketelitian dalam pengamatan pertumbuhan tanaman, serta kemampuan analisis terhadap perkembangan vegetatif dan generatif tanaman.
Kegiatan ini berfokus pada budidaya beberapa komoditas tanaman hortikultura yang dikelola dengan sistem organik. Komoditas yang ditanam meliputi kacang panjang, timun, cabai besar, cabai rawit, tomat, terong, kale keriting, bayam brazil, dan selada. Beragamnya jenis tanaman ini memberikan pengalaman dalam mengelola berbagai karakteristik pertumbuhan hortikultura.
Budidaya organik dilakukan berdasarkan prinsip pertanian organik, yaitu seluruh input yang digunakan berasal dari bahan alami tanpa campuran kimia sintetis. Mulai dari pengolahan lahan, persiapan benih, penggunaan pupuk, hingga pestisida, semuanya menggunakan bahan organik. Hal ini bertujuan menjaga kesuburan tanah, keseimbangan ekosistem, serta menghasilkan produk yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Gambar 2. Tanaman kembang kol, tomat, dan terong
Seluruh tanaman ditanam langsung di lahan yang telah dibuat bedengan untuk mempermudah pengelolaan dan drainase. Beberapa komoditas menerapkan sistem tumpang sari, yaitu penanaman lebih dari satu jenis tanaman dalam satu area tanam. Sistem ini bertujuan memaksimalkan pemanfaatan lahan, mengurangi risiko serangan hama, serta meningkatkan efisiensi produksi.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini menerapkan sembilan tahap produksi sebagai acuan pertumbuhan tanaman, yaitu tahap benih, bibit, tanam, tumbuh, bunga, bakal buah, buah, matang, dan panen. Setiap tahap diamati dan dikelola dengan baik untuk memastikan tanaman berkembang optimal hingga menghasilkan produk yang siap dipanen. Dengan penerapan sistem ini, diharapkan budidaya hortikultura organik dapat menghasilkan produk berkualitas serta mendukung pertanian berkelanjutan.
Kegiatan budidaya tanaman buah dilaksanakan di Kebun Percobaan Kampus F7 Universitas Gunadarma sebagai bagian dari praktik lapangan. Kegiatan ini mencakup seluruh tahapan budidaya, mulai dari persiapan lahan hingga panen, dengan tujuan menghasilkan buah yang berkualitas serta memahami teknik perawatan tanaman hortikultura secara langsung.
Gambar 1. Penanaman Melon
Kegiatan budidaya tanaman buah dilaksanakan di Kebun Percobaan Kampus F7 Universitas Gunadarma sebagai bagian dari praktik lapangan. Kegiatan ini mencakup seluruh tahapan budidaya, mulai dari persiapan lahan hingga panen, dengan tujuan menghasilkan buah yang berkualitas serta memahami teknik perawatan tanaman hortikultura secara langsung.
Gambar 2. Penanaman Strawberry
Tahap awal dilakukan dengan persiapan lahan, seperti membersihkan area tanam, menggemburkan tanah, dan membuat bedengan. Selanjutnya dilakukan penyemaian benih sebelum dipindahkan ke lahan utama. Proses penanaman memperhatikan jarak tanam dan kondisi media agar pertumbuhan tanaman berlangsung optimal.
Komoditas yang dibudidayakan meliputi melon, labu madu, semangka, dan stroberi. Masing-masing tanaman memiliki kebutuhan perawatan yang berbeda sehingga teknik budidaya disesuaikan dengan karakteristik tiap komoditas.
Gambar 3. Pemeliharaan tanaman buah
Pemeliharaan dilakukan secara rutin, meliputi penyiraman, pemupukan, pemangkasan, serta pemasangan ajir untuk menopang tanaman. Selain itu, dilakukan pengendalian hama dan penyakit guna menjaga kesehatan tanaman dan mencegah penurunan hasil produksi.
Perlakuan khusus juga diterapkan, seperti polinasi manual pada tanaman melon untuk memastikan keberhasilan penyerbukan serta penggunaan naungan pada tanaman stroberi untuk melindungi dari paparan sinar matahari berlebih. Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan tanaman dapat tumbuh optimal dan menghasilkan buah dengan kualitas yang baik.
Kuliah Kerja Profesi (KKP) merupakan mata kuliah wajib pada Program Studi Agroteknologi yang diselenggarakan sebagai bentuk pembekalan, pelatihan, dan pengalaman kerja di suatu institusi. Kegiatan ini menjadi bagian dari pendidikan dan pelatihan kerja yang berfungsi menghubungkan dunia pendidikan dengan dunia industri (link and match).
Pada periode Agustus–September 2025, kegiatan KKP dilaksanakan selama minimal 25 hari kerja di institusi yang relevan dengan bidang pertanian dan agroteknologi. Kegiatan ini berupa praktik kerja terstruktur bagi mahasiswa strata-1 yang mencakup aktivitas di bidang produksi, pascapanen, dan pengelolaan tanaman. Setelah pelaksanaan kegiatan, sidang Kuliah Kerja Profesi dilaksanakan pada tanggal 30–31 Oktober 2025 sebagai bentuk evaluasi dan pertanggungjawaban akademik mahasiswa.
Gambar 1. Presentasi sidang kuliah kerja profesi
Gambar 2. Dosen Penguji sidang kuliah kerja profesi
Kuliah Kerja Profesi bertujuan mengantisipasi kesenjangan (gap) antara dunia akademis di perguruan tinggi dengan dunia industri yang bersifat dinamis dan pragmatis. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan kompetensi hard-skills dan soft-skills sehingga lebih siap menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan studi. Perguruan tinggi sebagai pemasok sumber daya manusia profesional menyadari pentingnya pengalaman lapangan dalam membentuk lulusan yang berkualitas.
Bagi institusi mitra, KKP menjadi sarana mendukung implementasi konsep link and match melalui penyediaan tempat praktik kerja bagi mahasiswa. Institusi juga dapat mengembangkan kemitraan dengan perguruan tinggi dalam menyelesaikan permasalahan industri melalui inovasi riset, sekaligus memperoleh bantuan tenaga mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatan operasional.
Sementara itu, bagi Program Studi Agroteknologi, KKP menjadi media untuk memperkenalkan program studi kepada instansi terkait bidang pertanian, memperoleh masukan untuk pengembangan kurikulum, serta memperkuat jaringan kerja sama. Dengan demikian, tercipta keselarasan antara substansi akademik dan kebutuhan kompetensi sumber daya manusia di dunia kerja pertanian.
Praktikum Sel Tumbuhan dilaksanakan pada Oktober 2025 di Laboratorium Menengah Kampus F7 Universitas Gunadarma, Ciracas, Jakarta Timur. Praktikum ini bertujuan untuk mengamati struktur sel tumbuhan pada batang vanili secara mikroskopis serta mengidentifikasi jaringan penyusunnya.
Prosedur kerja dimulai dengan mengambil batang vanili muda yang masih segar dan tidak terlalu keras agar mudah diiris. Batang kemudian diiris secara melintang menggunakan scalpel hingga diperoleh irisan yang sangat tipis dan transparan. Irisan tipis diperlukan agar cahaya dapat menembus preparat saat diamati di bawah mikroskop. Irisan tersebut diletakkan di tengah kaca objek menggunakan pinset, lalu ditetesi aquades untuk menjaga kelembapan dan membantu penembusan cahaya. Preparat kemudian ditutup dengan kaca penutup (cover glass) secara perlahan agar tidak terbentuk gelembung udara. Setelah itu, kaca preparat diletakkan di meja mikroskop dan diamati secara bertahap dengan perbesaran 10x, 40x, dan 100x. Hasil pengamatan didokumentasikan dengan mengambil foto melalui mikroskop.
Gambar 1. Mahasiswa melakukan pengamatan sel tumbuhan
Berdasarkan hasil pengamatan mikroskopis batang vanili, tampak sel-sel parenkim berbentuk segi banyak (poligonal) dengan ukuran cukup besar serta dinding sel yang jelas dan tebal. Sel parenkim berfungsi sebagai jaringan dasar penyusun batang yang berperan dalam penyimpanan air dan hasil fotosintesis. Selain itu, terlihat sel kolenkim dengan penebalan dinding sel yang tidak merata, yang berfungsi sebagai jaringan penguat pada batang muda.
Gambar 2. Sel Batang Vanili secara mikroskopis
Di beberapa bagian juga dapat dikenali berkas pembuluh, yaitu xilem dan floem, yang tampak sebagai jalur memanjang berwarna lebih gelap. Xilem berperan dalam mengangkut air dan mineral dari akar ke bagian lain tumbuhan, sedangkan floem berfungsi mengangkut hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan (Sari & Hartati, 2021). Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa batang vanili memiliki susunan jaringan yang lengkap untuk mendukung fungsi pertumbuhan, penguatan, dan transportasi zat.
Antraknosa merupakan salah satu faktor utama penyebab fluktuasi produksi cabai di Indonesia karena menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Deteksi dini terhadap penyakit ini menjadi langkah strategis untuk meminimalkan kerusakan buah sebelum gejala visual berkembang lebih lanjut. Hal ini mendorong tim peneliti dari Prodi Agroteknologi, Teknik Industri, Teknik Mesin dan Teknik Sipil untuk memanfaatkan citra termal sebagai solusi potensial.
Penelitian ini diketuai oleh Inti Mulyo Arti, S.T.P., M.Sc yang bertanggung jawab dalam bidang Teknologi Pascapanen dibantu oleh Dr. Evan Purnama Ramdan, S.P., M.Si sebagai Anggota 1 yang bertanggung jawab dalam bidang Penyakit Tanaman; Dr. Adinda Nurul Huda Manurung, S.P., M.Si sebagai Anggota 2 yang bertanggung jawab pada bidang Budidaya Tanaman dan Dr. Yogi Permadi, S.Kom., M.T. sebagai Anggota 3 yang bertanggung jawab pada bidang kepakaran Kecerdasan Buatan dan Robotika.
Penelitian dengan judul Pendekatan Termografi Inframerah dalam Pendeteksian Penyakit Antraknosa untuk Optimalisasi Kualitas dan Kuantitas Pascapanen Buah Cabai bertujuan mengevaluasi efektivitas citra termografi inframerah sebagai metode deteksi dini antraknosa pada buah cabai pascapanen sebelum munculnya tanda-tanda visual infeksi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Agroteknologi, Universitas Gunadarma dengan pengambilan sampel cabai dari petani dan pasar distribusi. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahapan, yaitu perekaman citra termal pada buah cabai pascapanen yang menunjukkan indikasi antraknosa di laboratorium serta perekaman citra termografi pada buah cabai di lapangan. Selain analisis pencitraan termal, dilakukan pula pengamatan parameter fisiologis meliputi kenampakan visual kulit, karakteristik warna, susut bobot, total padatan terlarut, pH, dan kadar vitamin C (Gambar 1).
Gambar 1. Rangkaian kegiatan penelitian
Penelitian ini telah berhasil memperoleh pendaanan dari program Hibah Penelitian Fundamental Reguler (PFR) selama periode 1 tahun pelaksanaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan suhu permukaan serta perubahan karakter fisiologis pada buah cabai yang terinfeksi antraknosa. Perekaman citra termografi inframerah terbukti mampu mengidentifikasi perubahan suhu secara akurat pada buah terinfeksi, sehingga metode ini berpotensi digunakan sebagai sistem deteksi dini penyakit antraknosa pada cabai. Luaran penelitian yang telah dicapai meliputi artikel ilmiah pada jurnal internasional, pengembangan aplikasi CapsiScan (Gambar 2) dan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual.
Gambar 2. Tampilan aplikasi CapsiScan yang dikembangkan
Program Studi Agroteknologi, Universitas Gunadarma melangsungkan Kuliah Umum dengan judul “Peningkatan Produksi dan Peluang Bisnis Tanaman Hias untuk Pasar Domestik dan Mancanegara” pada Rabu, 5 Juni 2024 secara luring di Auditorium Kampus F6, Universitas Gunadarma, Cimanggis, Depok dan daring melalui Zoom Meeting. Dihadiri oleh seluruh mahasiswa Aktif Program Studi Agroteknologi.
Acara Kuliah Umum dibuka dengan sambutan oleh Ketua Program Studi Agroteknologi, Universitas Gunadarma. Beliau menyampaikan harapan agar kuliah umum ini dapat menjadi ilmu dan wawasan baru bagi mahasiswa dalam bidang bisnis tanaman hias.
Materi kuliah umum ini disampaikan oleh Dr. Liferdi Lukman, SP., MSi yaitu Direktur Buah dan Tanaman Hias, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementrian Pertanian yang dipandu oleh Dr. Ummu Kalsum, SP., MSi selaku Moderator. Dalam sesi materi, beliau menyampaikan bahwa saat ini kebijakan dan strategi pengembangan komoditas hortikultura adalah meningkatkan daya saing hortikultura melalui peningkatan produksi, produktivitas, akses pasar, logistik didukung sistem pertanian modern yang ramah lingkungan, serta mendorong peningkatan nilai tambah produk untuk kesejahteraan petani. Guna mewujudkan hal tersebut strategi yang digunakan yaitu pengembangan kampung hortikultura (Buah-buahan, Sayuran, Tanaman Obat, dan Florikultura), penumbuhan UMKM hortikultura (Bantuan Sapras Pascapanen dan Pengolahan Hortikultura), moderniasis hortikultura melalui pengembangan sistem informasi kegiatan pembangunan Hortikultura dari hulu hingga hilir.
Setelah materi disampaikan, dilanjutkan dengan sesi diskusi/tanya jawab dengan para peserta kuliah umum. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh peserta berkaiatan dengan ketertarikan pada tanaman hias, cara memulai bisnis tanaman hias, dan prospek tanaman hias baik skala UMKM, nasional, maupun internasional.
Setelah sesi materi dan diskusi ditutup oleh moderator dilanjutkan dengan pemberian sertifikat dan cendaramata untuk pemateri dan moderator. Sertifikat dan cendramata diberikan Oleh Ketua Prodi Agroteknologi, Universitas Gunadarma yaitu Dr. Ir. Budiman, MS. kepada pemateri yaitu Dr. Liferdi Lukman, SP., MSi.
Acara Kuliah Umum ditutup dengan foto bersama peserta dan pemateri. Dari acara ini diharapkan dapat menjadi sumber keilmuan baru serta memantik minat bisnis pada komoditas hortikultura untuk seluruh mahasiswa Program Studi Agroteknologi, Universitas Gunadarma.