Seluk Beluk “Baperin Aja” Margonda Depok

Manajemen, menurut George R. Terry merupakan adalah sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, dan mengawasi yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran – sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber-sumber lain. Sedangkan pengorganisasian merupakan Proses yang menyangkut upaya memilih, menghimpun dan mengkoordinasi sumber daya untuk mempersiapkan dan membangun struktur organisasi yang tepat dan tangguh serta sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dengan memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi.

Peran manajemen organisasi dalam perusahaan bisa dilihat seperti hak untuk melakukan sesuatu atau perintah kepada orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan suatu agar tujuan dapat tercapai. Selain itu sebagai syarat penggerak yang menjalankan kegiatan – kegiatan organisasi. Wewenang yang bersifat formal didukung wewenang yang bersifat informal. Budaya organisasi dan konflik turut menjadi faktor dalam perusahaan.

Observasi atau tinjauan langsung yang dilakukan bertempat di salah satu badan usaha, berbentuk tempat makan atau restoran bernama Baperin Aja dengan slogan “No Cafe, No Kedai Tempat Baper”. Berlokasi di jalan Raya Margonda Depok, lebih tepatnya di sebrang Kampus D Universitas Gunadarma Depok atau lebih tepatnya di bawah jembatan penyebrangan. “Baperin Aja” mengusung konsep restoran dengan tema modern bernuansakan anak muda, dilengkapi dengan berbagai jenis hiburan permainan seperti uno card, uno stacko, monopoli dan lain sebagainya. Desain interior dari tempat ini juga begitu menarik, karena terdapat berbagai hiasan dan atribut – atribut pendukung yang membuat tata letak atau kondisi dari tempat ini cukup menarik perhatian. “Baperin Aja” terdiri dari 3 lantai dan terdapat rooftop. Lantai pertama merupakan counter pemesanan, kasir beserta dapur dan tempat duduk sofa. Lantai kedua dan ketiga merupakan tempat makan menggunakan meja lesehan, dan lantai paling atas merupakan rooftop apabila ingin merasakan suasana outdoor. Lantai 1 hingga lantai 3 dari tempat ini dilengkapi dengan pendingin ruangan beserta musik yang diputarkan melalui speaker.

Wawancara dilakukan dengan pemilik tempat yaitu Bapak Deni. Wawancara dilakukan dengan materi seputar profil dari perusahaan sendiri, kemudian kondisi – kondisi yang terdapat dalam hubungan antara karyawan, seperti bagaimana pemilik mengatasi apabila terdapat konflik antara karyawan, kemudian apabila terdapat karyawan yang melanggar peraturan.

Dalam pembagian kerja yang dilakukan dalam kedai “Baperin Aja” kedai ini memiliki total 12 karyawan dengan masing – masing jobdesk dan dibagi kedalam pembagian 2 shift yaitu shift pagi dan shift malam. Kedai yang terletak di jalan Margonda ini merupakan kedai pertama yang akan di bangun dan founder atau pemilik usaha berencana untuk membangun cabang selanjutnya yang berlokasi di Surabaya dan Bengkulu.

Konflik organisasi menurut Robbins (1996) adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh terhadap pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Disini sebisa mungkin peran manajer menjadi penengah dalam mengatasi konflik yang terjadi. Sedangkan Budaya Organisasi merupakan Mondy dan Noe (1996) budaya organisasi adalah system dari shared values, keyakinan dan kebiasaan-kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur formalnya untuk menciptakan norma-norma perilaku.

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan terhadap owner “Baperin Aja” mengontrol perusahaannya apabila terdapat konflik antara karyawan dilakukan secara kekeluargaan, dalam arti pendekatan dilakukan secara informal. Begitupun apabila ada karyawan yang melanggar peraturan atau berperilaku kurang berkenan, biasanya sang manajer melakukan teguran secara langsung atau personal terhadap orang yang dituju. Owner tidak terlalu menekankan punishment kepada karyawannya, tetapi lebih ke arah pemberitahuan secara persuasif, kepada masing – masing karyawan yang melanggar.

Berjalan atau tidaknya penerapan manajemen perusahaan dan organisasi kembali lagi ke dalam penerpannya secara langsung, apakah terlaksana dengan baik dan didukung oleh segala sumber daya yang ada didalamnya.

Disusun Oleh:

Kelompok 8 3ID03

Dian Zidni Oktavia (33414009)

Maria Sherly Puspaningrum (36414385)

Royman HM Simarangkir (3D414037)

Yosafat Andherson (3C414466)

 

Post Your Thoughts


lima × = 15