Ngalong di Cikalong, Kemah Berasa Rumah

 

By bhermana

By bhermana

Ngalong berarti (nyaris) tidak tidur semalaman. Guru Bahasa Indonesia mungkin akan menggunakan kosa kata “Begadang” sebagai padanan bakunya.  Ngalong menjadi kosa kata gaul yang merujuk ke prilaku orang yang layaknya seekor kalong, sebangsa kelelawar (Chiroptera) pemakan buah-buahan.  Mereka berkeliaran di malam hari, lalu tidur sembari bergelantungan di siang hari.

Kalong di situ Lengkong (by bhermana)

Kalong di situ Lengkong (by bhermana)

Bak kalong itulah yang kami lakukan saat menginap semalam di Cikalong tanggal 19 Desember 2016. Kami pun begadang sampai dini hari menjelang, lalu memejamkan mata  sekejap saja di dalam kemah setelah penat datang. Tidak bergelantungan, tentunya.

By bhermana

By bhermana

By bhermana

By bhermana

By M. Naufa&Akbar Marwan

By M. Naufa&Akbar Marwan

Sejarah Kemah

Kemah sebagai alternatif rekreasi sudah digagas lebih dari satu abad yang lalu. Orang Inggris bernama Thomas Hiram Holding banyak didaulat sebagai penggagas utamanya. Sejak kecil, beliau sering berkelana bersama orang tuanya. Mereka berpetualang melintasi padang rumput di Amerika.

By bhermana

By bhermana

Perjalanan dengan mobil wagon sejauh 1200 mil dilakukan sekitar tahun 1853 ketika berumur 9 tahun. Petualangan tersebut menginspirasi Thomas untuk membuat buku teks pertama tentang berkemah pada tahun 1908. Buku tersebut menyajikan dasar-dasar berkemah.

Cover Buku Cycle and Camp in Connemara karya Thomas Hiram Holding (foto diambil dari sini)

Cover Buku Cycle and Camp in Connemara karya Thomas Hiram Holding (Gambar diambil dari sini)

Jelajah Thomas sambil berkemah lantas merambah ke Skotlandia dengan berperahu. Kemah setelah bersepeda dilakukannya di Irlandia. Peralatan tenda portable pun dirancangnya. Buku berikutnya pun terbit berjudul: “Cycle and Camp in Connemara” pada tahun 1898.

Rupa-rupa Tenda

Zaman pramuka dulu, peralatan berkemah sangat sederhana, bahkan hanya memanfaatkan bahan bekas pakai dan alat-alat pendukung yang diperoleh dari alam. Tendanya pun menjahit sendiri dari kain bekas karung terigu. Tiang penyangganya pun terbuat dari bambu, yang kadang menebang sendiri dari kebun.

Era berkemah dengan tenda alakadarnya sudah berlalu. Kini rupa-rupa tenda semakin menarik dan inovatif. Sentuhan teknologi membuat kemah serasa di rumah yang nyaman dengan cara pemasangan yang semakin mudah.

By bhermana

By bhermana

Mengutip Klub Karavan dan Kemah Inggris di sini, saat ini tersedia berbagai aneka rupa tenda modern dengan disain dan teknologi pendukung yang makin mumpuni. Tipe-tipe teda tersebut meliputi basic ridge, dome, geodesic and semi-geodesic, instant and quick-pitch, inflatable, khyam, tunnel, vis-a-vis, pod living, large family, frame, tepee, serta trailer tents and folding campers.

tipe-tenda-1

tipe-tenda-trailer

Modernitas Peralatan Kemah

Rupa-rupa tenda bukan sebatas rancangan dan corak warna-warni semata. Dulu, kita bubar jika ada badai dan hujan lebat. Tenda rubuh atau tempias hujan dan genangan air nyelonong ke dalam tenda adalah hal biasa. Hujan kedinginan dan terik kepanasan pun terasa di dalam tenda. Patut bersyukur sekarang  masih ada lampu badai dengan minyak tanah yang tahan terjangan angin, meskipun mulai langka dijual.

Lampu badai di Cikalong (by M. Naufa&Akbar Marwan)

Lampu badai di Cikalong (by M. Naufa&Akbar Marwan)

Kini, tenda generasi baru yang hi-tech dapat menangkal gangguan cuaca. Teknologi termal dan pemilihan bahan terbaru membuat tenda di era sekarang dapat menahan perubahan suhu ekstrim. Bahkan cahaya pun sudah menjadi satu paket dengan tenda. Sumber energinya dari baterai, bahkan panel surya. Bukan hanya itu, lampu LED yang terpasang pun berfungsi untuk mengusir lalat dan nyamuk.

Foto diambil dari majalah daring Bloomberg

Foto diambil dari majalah daring Bloomberg

Dulu, memasak pakai alat sederhana dari alam. Tumpukan batu atau bata cukup sudah membentuk tungku sederhana. Api dari kayu bakar  pun menari-nari tertiup angin. Memanggang ketan atau ikan cukup ditaro di atas api unggun, sekalius untuk mengusir hawa dingin menusuk di waktu malam. Kini pemasak portable dengan pasokan energi baterai begitu ringan ditentengnya. Alat masak pun sudah tersedia lengkap mulai dari pemanggang roti dan talenan.

Foto diambil dari majalah daring Bloomberg

Foto diambil dari majalah daring Bloomberg

Soal mandi pun tidak lepas dari inovasi. Dulu, mandi di sungai yang masih jernih, atau numpang di kamar mandi mesjid, tak perlu malu. Kini, kemah seperti di hotel mewah sudah lumrah. Portable shower memanjakan kita saat disiram air hangat tanpa perlu memasak air dulu.

Foto diambil dari majalah daring Bloomberg

Foto diambil dari majalah daring Bloomberg

Tidur pulas laksana di rumah mungkin terjadi di tenda modern. Dulu, ngantuk saja tidaklah cukup. Punggung terasa sakit bersentuhan dengan tanah atau rumput liar, meski sudah dialasi tikar anyaman yang tidak kedap air. Jika ingin lebih hangat, kadang tumpukan jerami pun digelar ditutupi terpal. Kini alas tidur dilengkapi dengan selimut termal begitu memanjakan para penggemar kemah.

Foto diambil dari majalah daring Bloomberg

Foto diambil dari majalah daring Bloomberg

Jurit malam saat pramuka menjadi nostalgia masa lalu. Kelamnya malam begitu pekat hingga tidak tertembus pandangan mata. Obor dari bambu dengan sumbu kain dan minyak tanah menjadi pilihan satu-satunya untuk menyibak gulita malam. Paling banter, lampu senter dengan batu baterai menjadi modal untuk menjangkau obyek jarak jauh. Kini semuanya tergantikan dengan lampu panel surya dan teropong modern.

Foto diambil dari majalah daring Bloomberg

Foto diambil dari majalah daring Bloomberg

tenda-teropong-3

Kenyamanan kemah modern bukan hanya itu. Orangnya pun dapat memakai baju, celana, dan sepatu khusus yang disesuaikan dengan berbagai kemungkinan perubahan cuaca. Akhirnya, berkemah pun menjadi cara berekreasi yang nyaman dan makin populer akhir-akhir ini.

Btw, betapapun moderennya teknologi berkemah saat ini dan nanti. Kemah dengan cara tradisional tetap ngangenin kok. Jadi, ini masalah selera dan pilihan saja. Yang penting, mari kita lestarikan dan nikmati alam yang indah ini. Tanpa itu, percuma kita berkemah di alam terbuka yang makin terluka.

Catatan:

  1. Sejarah kemah disadur dari sini.
  2. Peralatan kemah modern diambil dari artikel di majalah daring Bloomberg di sini.
  3. Acara berkemah tanggal 19 Desember 2016 bertepatan dengan penanaman pohon perdana di UG Arboretum Tanaman Langka dan UG Systematic Garden oleh Rektor dan jajaran pimpinan UG

Post Your Thoughts


enam − 1 =